KETUA PANITIA PGM 2026: PEMUDA MADRASAH HARUS TANGGUH, KREATIF DAN BERAKHLAK

Keterangan Foto: Ketua Panitia Perkemahan Gebyar Madrasah (PGM) 2026 Ahmad Jailani Nasution, S.Pd.I., M.Pd., bersama Syahrizali, S.Pd.I., Wakil Ketua Panitia PGM 2026 Kabupaten Tapanuli Tengah, saat pelaksanaan kegiatan di Barus, Tapanuli Tengah.

Keterangan Foto: Ketua Panitia Perkemahan Gebyar Madrasah (PGM) 2026 Ahmad Jailani Nasution, S.Pd.I., M.Pd., bersama Syahrizali, S.Pd.I., Wakil Ketua Panitia PGM 2026 Kabupaten Tapanuli Tengah, saat pelaksanaan kegiatan di Barus, Tapanuli Tengah.


BARUS, TAPANULI TENGAH (TL) – Tenda boleh dibongkar, perlombaan boleh berakhir, tetapi pembentukan karakter generasi muda madrasah diharapkan terus berjalan.

Pesan itulah yang menjadi semangat dalam Perkemahan Gebyar Madrasah (PGM) 2026 di Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah. Selama tiga hari, 22–24 Agustus 2026, sebanyak 78 regu dari berbagai madrasah se-Kabupaten Tapanuli Tengah mengikuti kegiatan yang memadukan pendidikan, kepramukaan, keagamaan, kreativitas dan kepedulian lingkungan.

Mengusung tema “Berkemah untuk Karakter, Berkarya untuk Negeri”, PGM 2026 tidak sekadar menghadirkan kompetisi antarmadrasah. Kegiatan ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk belajar menjadi pribadi yang disiplin, mandiri, berani, kreatif dan mampu bekerja dalam tim.

Di balik rangkaian kegiatan tersebut, Kementerian Agama Kabupaten Tapanuli Tengah mendorong agar pendidikan karakter tidak berhenti di ruang kelas, tetapi hadir melalui pengalaman nyata yang dirasakan langsung oleh peserta didik.

Ketua Panitia PGM 2026, Ahmad Jailani Nasution, S.Pd.I., M.Pd., mengatakan generasi muda madrasah membutuhkan ruang untuk belajar, mencoba, berkompetisi dan membangun kepercayaan diri.

BUKAN TENTANG SIAPA YANG MENANG

Bagi panitia, PGM bukan sekadar mengejar piala.

Di balik setiap perlombaan, terdapat proses pembelajaran. Peserta belajar memimpin regu, membagi tugas, mengatur waktu, menyelesaikan persoalan dan menerima hasil kompetisi dengan sikap sportif.

“PGM ini kita rancang bukan hanya sebagai ajang perlombaan, tetapi juga sebagai wadah pembinaan bagi peserta didik madrasah. Kita ingin mereka menjadi generasi yang tangguh, kreatif, mandiri, mampu bekerja sama dan memiliki akhlak yang baik,” ujar Ahmad Jailani.

Semangat tersebut terlihat dari keterlibatan peserta dalam berbagai perlombaan, seperti yel-yel, parade semaphore, tilawah, pionering, lomba memasak, Lomba Ketangkasan Baris-Berbaris (LKBB) dan syarhil.

Setiap kegiatan menuntut kemampuan yang berbeda. Ada yang membutuhkan ketepatan, ada yang menguji keberanian, sementara lainnya menuntut kreativitas dan kekompakan.

“Yang kita harapkan bukan hanya siapa yang menjadi juara. Lebih dari itu, peserta harus mendapatkan pengalaman yang membentuk mereka menjadi pribadi yang lebih percaya diri, disiplin dan mampu bekerja sama,” katanya.

BARUS, ANTARA KEMAH DAN JEJAK SEJARAH

Ada alasan mengapa Barus menjadi lokasi PGM 2026.

Kawasan ini memiliki jejak sejarah yang kuat dalam perjalanan perkembangan Islam di Nusantara. Bagi peserta madrasah, berada langsung di Barus menjadi kesempatan untuk melihat sejarah dari perspektif yang lebih dekat.

Pembelajaran sejarah pun tidak hanya berlangsung melalui buku atau materi di kelas. Peserta mendapatkan pengalaman berada di lingkungan yang memiliki nilai sejarah dan budaya.

Momentum tersebut diharapkan dapat menumbuhkan rasa ingin tahu sekaligus kebanggaan generasi muda terhadap sejarah daerahnya.

Sebab, mengenal sejarah bukan hanya mengingat masa lalu, tetapi memahami identitas dan perjalanan masyarakat untuk menatap masa depan.

DARI SUNGAI, BELAJAR MENJAGA ALAM

Karakter juga dibangun melalui kepedulian terhadap lingkungan.

Berada di kawasan sekitar sungai, peserta diajak memahami bahwa alam bukan sekadar tempat untuk beraktivitas, tetapi harus dijaga dan dirawat.

Salah satu bentuk nyata kepedulian tersebut diwujudkan melalui penanaman pohon di sekitar sungai.

Peserta terlibat langsung dalam kegiatan tersebut. Mereka tidak hanya mendengar tentang pentingnya menjaga lingkungan, tetapi melakukan aksi nyata.

“Anak-anak kita tidak hanya belajar tentang kepramukaan dan keterampilan, tetapi juga kita ajarkan untuk mencintai lingkungan. Mereka harus memahami bahwa menjaga kebersihan dan kelestarian alam merupakan tanggung jawab bersama,” ujar Ahmad.

Kegiatan tersebut menjadi pesan sederhana bahwa perubahan besar dapat dimulai dari kebiasaan kecil: menjaga kebersihan, merawat tanaman dan tidak merusak lingkungan.

PEMUDA MADRASAH, ENERGI MASA DEPAN

Tiga hari berada di lokasi perkemahan menjadi pengalaman tersendiri bagi para peserta.

Mulai dari bangun pagi, mengikuti apel, berolahraga, mengikuti perlombaan, bekerja dalam regu hingga menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan, peserta belajar menjalani rutinitas dengan disiplin.

Pada Senin (24/8/2026), kegiatan ditutup dengan sejumlah agenda, di antaranya olahraga, apel pagi, LKBB, lomba syarhil, gladi upacara penutupan, upacara penutupan dan pengumuman pemenang.

Setelah itu, peserta membongkar tenda dan mengikuti sayonara sebelum kembali ke madrasah masing-masing.

Namun, bagi panitia, berakhirnya perkemahan bukanlah akhir dari proses pembinaan.

Justru setelah kembali ke madrasah, nilai-nilai yang diperoleh selama PGM diharapkan mulai diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Disiplin saat belajar, berani tampil, mampu bekerja sama, menghargai perbedaan, menjaga lingkungan, menjunjung sportivitas dan memiliki akhlak yang baik.

Itulah karakter yang ingin dibawa pulang dari Barus.

PGM 2026 pun menjadi salah satu ikhtiar Kementerian Agama Kabupaten Tapanuli Tengah dalam mempersiapkan generasi muda madrasah yang bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh menghadapi tantangan, kreatif melahirkan gagasan, terampil mengambil peran dan kuat dalam akhlak.

Sebab, masa depan tidak hanya membutuhkan generasi yang pintar.

Masa depan membutuhkan pemuda yang berkarakter, berani berkarya dan siap memberi manfaat bagi negeri.

#Kemenag
SHARE :
LINK TERKAIT