
Festival Bunga dan Buah bukan sekadar agenda pariwisata seremonial tanpa makna. Menurut Rion Ginting, S.E., Festival ini menjadi ajang penguatan seluruh struktur pemerintahan dan masyarakat Karo.
Mahasiswa KPM UIN SUNA Mengikuti Pawai Festival Bunga dan Buah
Berastagi, Target Liputan Sumut - Festival
pesta bunga dan buah adalah salah satu
acara tahunan yang cukup terkenal khususnya di daerah berastagi. acara ini
biasanya diadakan untuk merayakan hasil panen sekaligus menarik wisatawan.
pesta ini identik dengan suasana yang sangat meriah. banyak mobil dihias dengan
bunga dan buah segar, lalu berpawai dari SMA NEGERI 1 BERASTAGI sampai ke Taman
Mejuah-Juah, pawai yang dilakukan diikuti oleh beberapa kecamatan, seperti kecamatan Barus Jahe,
Payung, Tigandreket dll, serta kedinasan kabupaten Karo. selain itu, ada
festival perlombaan seperti fashion show dengan busana yang sangat menarik yang
terbuat dari bunga dan buah yang segar.
Salah
satu busana yang digunakan berasal dari bunga aster ungu atau dikenal dengan
bunga krisan dan menggunakan mahkota yang terbuat dari buah terong ungu.
Festival ini diselenggarakan usai masa panen tiba, dan pada umumnya
dilaksanakan di akhir bulan Juli hingga awal bulan Agustus. Berbagai rangkaian
acara ditampilkan mulai dari parade bunga dan buah, pertunjukkan seni budaya
khas Karo, hingga pameran produk UMKM dan kuliner khas Karo. Masyarakat tampak
antusias mengikuti setiap kegiatan yang diselenggarakan, karena tidak hanya
menampilkan bunga dan buah, namun juga dimeriahkan dengan mendatangkan artis
Karo yang terkenal dan artis ibukota seperti Anggi Marito, sehingga banyak
wisatawan dan warga lokal yang berdatangan untuk memeriahkan acara tersebut.
Di
balik riuk pikuk kemeriahan pawai mobil hias, kreativitas gaun floral, dan
antusiasme penonton di sepanjang jalan Berastagi, Festival Bunga dan Buah pada
hakikatnya menyimpan makna strategis yang jauh lebih dalam. Kehadiran mahasiswa
KPM UIN SUNA Lhokseumawe tidak hanya sekadar menyaksikan sebuah selebrasi
visual, tetapi juga menyelami langsung esensi budaya dan ekonomi yang menjadi
penggerak utama pesta rakyat ini.
Berdasarkan
hasil wawancara eksklusif bersama Bapak Rion Ginting, S.E., terungkap bahwa
festival tahunan ini dirancang sebagai wadah integratif untuk memperkuat
identitas daerah sekaligus memajukan kesejahteraan masyarakat Karo.
Pesta
Rakyat sebagai Panggung Promosi dan Identitas Wilayah
Festival
Bunga dan Buah bukan sekadar agenda pariwisata seremonial tanpa makna. Menurut
Rion Ginting, S.E., Festival ini menjadi ajang penguatan seluruh struktur
pemerintahan dan masyarakat Karo. Setiap instansi mulai dari tingkat desa,
kecamatan, hingga kedinasan kabupaten diberikan panggung yang sama untuk
memamerkan potensi terbaik dari wilayahnya masing-masing.
"Pesta
Bunga dan Buah ini setiap tahun kita laksanakan untuk mempromosikan objek
wisata yang ada di Kabupaten Karo. Di sini, setiap instansi dari tingkat desa
sampai kabupaten diberikan kesempatan menampilkan ciri khas wilayahnya
masing-masing agar wisatawan tertarik untuk datang," jelas Rion Ginting
selaku Camat dari Kecamatan Barus Jahe.
Melalui
pawai tersebut, keanekaragaman hasil tanah Karo diolah menjadi karya seni yang
mempresentasikan keunggulan komoditas lokal kepada khalayak yang lebih luas.
Efisiensi Hasil
Tani: Dari Dekorasi Parade hingga Keberlanjutan Tradisi
Salah
satu perhatian penting dalam penyelenggaraan festival ini adalah bagaimana
pemanfaatan hasil pertanian berlimpah agar tidak terbuang sia-sia (food waste)
setelah acara berakhir. Banyak pihak senantiasa mempertanyakan nasib ribuan
tangkai bunga segar dan buah-buahan yang dijadikan hiasan pada kendaraan pawai.
Menanggapi
hal tersebut, Rion Ginting menegaskan bahwa panitia dan masyarakat telah
menerapkan prinsip efisiensi yang bijak seperti keperluan Ziarah Tradisional, bunga-bunga
segar yang selesai dipamerkan di garis finish (podium utama Taman Mejuah-Juah)
langsung dibagikan kepada warga masyarakat yang meminta untuk dimanfaatkan
sebagai sarana ziarah. Seluruh buah-buahan hiasan dilepas dan dibagikan secara
gratis kepada pengunjung dan warga lokal untuk dikonsumsi. Sistem ini
memastikan bahwa seluruh komoditas pertanian yang digunakan memiliki nilai guna
penuh dari awal hingga akhir perayaan, sekaligus mempererat rasa kebersamaan
antara pemerintah dan warga.
Sinergi Kemitraan dan
Dampak Ekonomi Berkelanjutan
Keberhasilan
Festival Bunga dan Buah Berastagi dalam mengumpulkan ribuan pengunjung tidak terlepas
dari fondasi kerja sama yang solid. Lintas bidang mulai dari pemerintah daerah,
instansi swasta, pengusaha UMKM, hingga pariwisatawan bergerak secara kompak
untuk mensukseskan acara ini.
Dampak
positifnya dirasakan langsung pada ekosistem perekonomian lokal seperti membuka
dan memperluas jaringan pasar bagi para petani bunga dan buah di Tanah Karo,
kemudian meningkatkan pengunjung hotel, penjualan kuliner khas, serta
pendapatan para pedagang UMKM di sekitar Berastagi, dan menjadikan wisata Karo
tetap hidup dengan biaya penyelenggaraan yang efisien namun tetap dikemas
secara meriah dan megah.
Bagi
para mahasiswa KPM UIN SUNA Lhokseumawe, keterlibatan dalam perayaan ini
menjadi pengalaman pembelajaran lapangan yang sangat berharga. Festival Bunga
dan Buah Berastagi membuktikan bahwa ketika kearifan lokal, potensi pertanian,
dan semangat kolaborasi dipadukan secara harmonis, lahir sebuah atraksi budaya
bernilai tinggi yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memakmurkan seluruh
lapisan masyarakat.
Penutup
Melalui
observasi dan interaksi langsung di lapangan, mahasiswa kelompok 18 KPM Mandiri
UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe menyaksikan bagaimana Festival Bunga dan
Buah Berastagi berhasil mengonversi potensi alam Karo menjadi kekuatan ekonomi
daerah. Integrasi antara nilai estetika pawai, efisiensi pemanfaatan hasil
panen, dan semangat gotong royong antarwarga menciptakan ekosistem pariwisata
yang hidup dan bernilai guna. Pembelajaran dari Tanah Karo ini menjadi catatan
penting bahwa pembangunan ekonomi berbasis komunitas akan selalu menemukan
bentuk terbaiknya ketika melibatkan seluruh elemen masyarakat secara aktif dan
harmonis.
Penulis
oleh mahasiswa kelompok 18 KPM Mandiri UIN SUNA Lhoseumawe:
1. M.
Rafli Pratama
2. Juwita
Pratiwi Aritonang
3. Annisa
Putri
4. Kasmawati
5. Widiya
Ramadhani Br. Tarigan
6. Mutia
Rahmi
7. Sherina
8. Karina
Amanda Saragih